SAJAK DI PENGHUJUNG MARET
(biarlah
hujan menghapus bayangmu)
Sajak Perpisahan
Menatap langit
yang menghampar kelam
menghayati irisan
kepedihan pada hitam aspal yang kulindas
dan hujaman air jatuh di sela daun-daun jalanan
derasnya hujan yang menimpa tak kuhiraukan
derasnya hujan yang menimpa tak kuhiraukan
dinginnya memekatkan ketidakmengertian kita
atas tulisan-tulisan yang kita rangkai tak bersambut
atas tulisan-tulisan yang kita rangkai tak bersambut
sudah
seharusnya....
kata itulah
yang sudah ada di ujung lidahku saat pertama bertemu
tak mampu
mengucap
tikaman
perasaan yang bergelut dalam benakku
yang tak
cerdas dalam memahami seribu makna
tak lagi
mampu mengeja ...
sudah
seharusnya kita tak bersama
biarkanlah
langit menumpahkan kepekatannya
dan tanah basah yang kucium menyimpan makna
dan tanah basah yang kucium menyimpan makna
mendoakanmu
adalah cara memelukmu dari jauh
mencium bayangmu membuatku terus bergumam
biarkanlah hujan turun dan deras
juga biarkan dingin menyelimuti
menyempurnakan hari di atas perjalanan kehidupanku
biarkanlah hujan turun dan deras
juga biarkan dingin menyelimuti
menyempurnakan hari di atas perjalanan kehidupanku
menangis dalam derasnya hujan dan berisak dalam kepedihan
guratan takdir telah terlahir saat hembusan nafas pertama
kupasrahkan dan kuserahkan
cinta yang tak pernah bertepi pada orang yang kucinta


